Skripsi · Perencanaan Wilayah dan Kota · 2026
Evaluasi Kinerja Kawasan Terminal Leuwi Panjang
Menggunakan pendekatan Extended Node-Place Model yang mengintegrasikan tiga dimensi: kapasitas transportasi (Node), intensitas aktivitas perkotaan (Place), dan kualitas lingkungan fisik (Design).
Abstrak Penelitian
Tentang Penelitian Ini
Terminal Leuwi Panjang memegang peranan vital sebagai gerbang transportasi regional di Kota Bandung, namun belum berkembang menjadi kawasan yang terintegrasi secara optimal. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kinerja dan keseimbangan kawasan tersebut menggunakan pendekatan Extended Node-Place Model.
Penelitian mengkaji tiga dimensi pembentuk kawasan transit: kapasitas transportasi (Node), intensitas aktivitas perkotaan (Place), dan kualitas lingkungan fisik (Design). Metode campuran digunakan melalui perhitungan indeks kuantitatif, analisis spasial, dan audit walkability lapangan.
Hasil penelitian menempatkan kawasan pada klasifikasi Unbalanced Node (Simpul Tidak Seimbang), di mana kinerja transportasi sangat tinggi (Indeks Node 0,78) namun tidak diimbangi oleh perkembangan kawasan sekitar (Indeks Place 0,40). Terminal berfungsi efektif sebagai simpul transportasi, namun belum berhasil menjadi pusat aktivitas perkotaan yang hidup.
Hasil Analisis
Tiga Dimensi Evaluasi
Dimensi I
Node — Transportasi
Kategori: Tinggi (High Performance)
Terminal berfungsi prima sebagai simpul transportasi regional dengan konektivitas sangat luas dan frekuensi layanan yang sangat tinggi. Merupakan kekuatan utama kawasan.
Dimensi II
Place — Aktivitas Kawasan
Kategori: Sedang-Rendah
Kawasan belum mampu memanfaatkan potensi aksesibilitas terminal. Dominasi hunian horizontal rendah dan minimnya keragaman aktivitas membatasi vitalitas kawasan.
Dimensi III
Design — Walkability
Kategori: Cukup / Hambatan Sedang
Infrastruktur pejalan kaki tersedia namun belum optimal. Konektivitas baik namun kualitas permukaan sangat buruk (hanya 16,7% trotoar layak) dan minim fasilitas disabilitas.
Analisis Kuantitatif
Perhitungan Indeks Node, Place & Design
Dimensi Node — Suplai Transportasi
Dimensi Node mengukur kapasitas terminal sebagai simpul dalam jaringan transportasi regional. Terdiri dari 4 indikator dengan bobot merata (equal weight 25%). Normalisasi menggunakan Min-Max ke skala 0–1.
| Indikator | Data Eksisting | Skor Mentah | Normalisasi | Kategori |
|---|---|---|---|---|
| Keragaman Moda Modal Diversity |
BRT ✓ (×2), Bus Reguler ✓ (×1), Angkutan Mikro ✓ (×1) KRL ✗ · LRT/MRT ✗ |
4 / 8 poin | 0,50 | Sedang |
| Konektivitas Jaringan Network Connectivity |
Lokal: 9 trayek Aglomerasi: 10 trayek AKDP: >12 trayek AKAP: >12 trayek Total >40 trayek unik |
Skor 5 / 5 (>20 trayek) |
1,00 | Sangat Tinggi |
| Intensitas Layanan Service Intensity |
Bus Kota & TMP: 18–24 kend/jam Bus Jarak Jauh: 8–15 kend/jam Angkutan Mikro: >60 kend/jam Total agregat >100 kend/jam |
Skor 5 / 5 (>30 kend/jam) |
1,00 | Sangat Tinggi |
| Integrasi Antarmoda Intermodal Integration |
Fisik: TMP↔TMB ≤0m, Angkot ≤200m (Halte Soetta) Tiket: 4 sistem terpisah (TMP, TMB, DAMRI, tunai) Informasi: hanya TMP real-time |
20 / 32 poin (Fisik:11, Tiket:5, Info:4) |
0,63 | Sedang |
Visualisasi Kontribusi Indikator
Dimensi Place — Intensitas Aktivitas Kawasan
Dimensi Place menilai daya tarik kawasan sebagai pusat aktivitas ekonomi dan sosial. Terdiri dari 3 indikator dengan bobot merata (33,3%). Semua dinormalisasi Min-Max ke skala 0–1.
| Indikator | Data Eksisting | Perhitungan | Indeks | Kategori |
|---|---|---|---|---|
| Kepadatan Hunian Residential Density |
Total unit hunian: 8.588 Luas kawasan: 197,53 Ha Kepadatan = 43,5 unit/Ha |
I = (43,5 – 0) / (200 – 0) = 43,5 / 200 |
0,218 | Rendah |
| Diversitas Guna Lahan Entropy Index (Shannon H) |
Hunian: 56,0% luas lantai Usaha/Komersial: 29,1% Campuran: 7,7% Sosial-Budaya: 3,4% Sarpras: 2,5%, Keagamaan: 1,3% |
H = –Σ(Pi·ln Pi) / ln(n) Σ(Pi·ln Pi) = –1,147 ln(7) = 1,946 H = 1,147 / 1,946 |
0,590 | Sedang |
| Intensitas Fisik Bangunan KDB & KLB |
Luas tapak bangunan: 1.252.579,75 m² Luas lantai total: 1.703.368,28 m² Luas lahan: 1.975.271,84 m² |
KDB = 1.252.580 / 1.975.272 = 63,41% IKDB = 0,634 KLB = 1.703.368 / 1.975.272 = 0,86 IKLB = 0,86/5 = 0,172 Ifisik = (0,634+0,172)/2 |
0,403 | Sedang-Rendah |
Visualisasi Kontribusi Indikator
Distribusi Luas Lantai per Fungsi (Dasar Entropi)
Dimensi Design — Kualitas Lingkungan Fisik
Dimensi Design berfungsi sebagai variabel intervening — jembatan antara Node dan Place. Terdiri dari 2 indikator dengan bobot merata (50%). Menentukan apakah potensi integrasi fisik dapat terwujud.
| Indikator | Data Eksisting | Perhitungan | Indeks | Kategori |
|---|---|---|---|---|
| Permeabilitas Jaringan Pedshed Ratio |
Radius analisis: 800 m Luas buffer (Euclidean): 197,53 Ha Luas service area (jaringan jalan): ±115 Ha 42% area terisolasi (±82,53 Ha) |
Pedshed = 115 / 197,53 = 0,582 I = Pedshed (langsung) |
0,58 | Buruk (0,50–0,59) |
| Kualitas Walkability Walkability Audit Score |
48 segmen diaudit Konektivitas: 45/48 = 93,8% layak Peneduh: 39/48 = 81,3% layak Lampu PJU: 39/48 = 81,3% layak Fasilitas disabilitas: 22/48 = 45,8% Permukaan layak: 8/48 = 16,7% |
I = Σ indeks segmen / 48 Distribusi kelas: Sangat Baik(1,0): 4 segmen Baik (0,8): 13 segmen Cukup (0,6): 21 segmen Buruk (0,4): 9 segmen Sangat Buruk (0,2): 1 segmen |
0,64 | Cukup |
Distribusi Walkability per Koridor
5 Indikator Fisik (48 Segmen)
Distribusi Kelas Walkability (48 segmen)
BaikBaikCukupBurukSangat
Buruk
Rekapitulasi Komposit — Extended Node-Place
Penggabungan ketiga indeks menggunakan bobot merata per dimensi. Koordinat (IN, IP) di-plot pada Matriks Node-Place untuk menentukan tipologi kawasan.
| Dimensi | Komponen Indikator | Skor | Bobot | Kontribusi | Kategori |
|---|---|---|---|---|---|
| NODE 0,783 |
Keragaman Moda | 0,50 | 25% | 0,125 | Sedang |
| Konektivitas Jaringan | 1,00 | 25% | 0,250 | Sangat Tinggi | |
| Intensitas Layanan | 1,00 | 25% | 0,250 | Sangat Tinggi | |
| Integrasi Antarmoda | 0,63 | 25% | 0,158 | Sedang | |
| PLACE 0,404 |
Kepadatan Hunian | 0,218 | 33,3% | 0,073 | Rendah |
| Diversitas Guna Lahan | 0,590 | 33,3% | 0,197 | Sedang | |
| Intensitas Fisik Bangunan | 0,403 | 33,3% | 0,134 | Sedang-Rendah | |
| DESIGN 0,620 |
Pedshed Ratio (Permeabilitas) | 0,58 | 50% | 0,290 | Buruk |
| Kualitas Walkability | 0,64 | 50% | 0,320 | Cukup |
Perbandingan Skor 9 Indikator
Node
Metodologi
Pendekatan & Kerangka Penelitian
Pendekatan Penelitian
Penelitian menggunakan pendekatan deduktif-kuantitatif dengan metode campuran (mixed-methods) strategi sekuensial eksploratoris. Model Extended Node-Place (Vale, 2015) diadaptasi untuk konteks terminal bus Indonesia.
Traffic counting, observasi lapangan, walkability audit 48 segmen, sensus persil bangunan
Data Dishub, RTRW Bandung, BPS, peta OSM, citra satelit Esri
Perhitungan skor Node (4 ind.), Place (3 ind.), Design (2 ind.)
Min-Max Normalization, equal weight, agregasi indeks komposit
Pemetaan koordinat (Node, Place) → klasifikasi 5 tipologi Bertolini
Landasan Teoretis
Kerangka klasik dualitas stasiun: Node vs Place; 5 tipologi keseimbangan kawasan transit
Penambahan dimensi Design (Pedshed Ratio) untuk mengungkap defisit permeabilitas fisik
Kepadatan persimpangan dan ukuran blok sebagai penentu aksesibilitas kota padat
Density, Diversity, Design sebagai tiga pilar pengukuran kawasan berbasis transit
Perluasan klasifikasi tipologi keseimbangan Node-Place untuk evaluasi berkelanjutan
Gambaran Umum
Wilayah Kajian — Radius 800m Terminal Leuwi Panjang
Wilayah studi mencakup 197,53 hektar yang diperoleh melalui buffering radius 800 meter dari titik pusat Terminal Leuwi Panjang, melintasi 8 kelurahan di 3 kecamatan (Bojongloa Kidul, Bojongloa Kaler, Babakan Ciparay).
| Kelurahan | Luas (Ha) | Porsi | % |
|---|---|---|---|
| Kebon Lega | 87,26 | 44,2% | |
| Situsaeur | 49,33 | 25,0% | |
| Kopo | 38,96 | 19,7% | |
| Cibaduyut | 15,70 | 7,9% | |
| Babakan Ciparay | 4,23 | 2,1% | |
| Suka Asih | 1,83 | 0,9% | |
| Margahayu Utara | 0,17 | 0,1% | |
| Mekar Wangi | 0,04 | 0,02% |
Dimensi Node
Profil Sistem Transportasi
Seluruh layanan berbasis jalan raya (road-based) tanpa dukungan moda rel (KRL/LRT), menjadikan kinerja terminal rentan terhadap saturasi lalu lintas di koridor Soekarno-Hatta dan Kopo.
Dimensi Design
Kualitas Lingkungan Pejalan Kaki
Indeks Walkability Per Koridor
Audit walkability dilakukan pada 48 segmen trotoar di 6 koridor jalan utama kawasan studi.
Kondisi 5 Indikator Fisik (48 Segmen)
Sintesis Akhir
Matriks Node-Place & Tipologi Kawasan
Simpul Tidak Seimbang — Transportasi Mendominasi
Dengan koordinat Node (0,78) dan Place (0,40), kawasan ini berada di kuadran kiri atas matriks, jauh dari garis keseimbangan. Fungsi transportasi sudah maju pesat, namun kawasan sekitar belum merespons dengan pengembangan yang setara.
43+ trayek, 100+ kendaraan/jam, BRT modern dengan GPS tracking
90,3% bangunan 1-2 lantai, kepadatan hunian 43,5 unit/ha (target 200 unit/ha)
Jembatan Node-Place belum optimal; trotoar ada tapi kualitas buruk
Fondasi transportasi kuat memungkinkan transformasi TOD jika diikuti intensifikasi lahan
Temuan Utama
Kekuatan, Kelemahan & Peluang
Konektivitas Jaringan Maksimal
Lebih dari 40 trayek unik menghubungkan kawasan ke seluruh lapisan wilayah — dari gang lokal hingga lintas pulau ke Sumatera. Skor 1,00 adalah kekuatan tertinggi kawasan.
KekuatanDominasi Hunian Horizontal Rendah
90,3% bangunan adalah rumah 1-2 lantai. KLB hanya 0,86 dari target 5,0. Kawasan baru memanfaatkan 17,2% kapasitas vertikal yang seharusnya ada di kawasan TOD.
KelemahanFragmentasi Sistem Pembayaran
Empat sistem berbeda (TMP/TMJ, TMB, DAMRI, Angkot tunai) beroperasi tanpa integrasi. Penumpang harus membayar penuh di setiap moda, menciptakan friksi transaksi yang menurunkan efisiensi transit.
KelemahanPermukaan Trotoar Kritis
Hanya 16,7% dari 48 segmen trotoar yang dievaluasi memiliki permukaan layak. Retak, lubang, dan genangan air mendominasi, meningkatkan risiko kecelakaan terutama saat hujan.
KelemahanPosisi Strategis & Potensi TOD
Terminal berada di persimpangan arteri primer Jl. Soekarno-Hatta dengan akses ke 2 gerbang tol. Kepadatan penduduk 276 jiwa/Ha menyediakan captive market yang besar untuk pengembangan TOD.
PeluangTiga Poros Aktivitas Unggulan
Terminal Leuwi Panjang (dengan MPP & Samsat Digital), RS Kiwari (rujukan regional), dan Sentra Sepatu Cibaduyut membentuk ekosistem aktivitas yang kuat sebagai fondasi kawasan TOD.
PeluangStrategi Pengembangan
Rekomendasi untuk Keseimbangan Kawasan
Prioritas Tinggi · Dimensi Place
Peningkatan Kepadatan Bangunan Vertikal
Transformasi dominasi rumah tapak 1-2 lantai menuju bangunan bertingkat (minimum 3-4 lantai) di koridor jalan utama. Perubahan regulasi KLB dari 0,86 menuju target 3,0–5,0 sesuai Permen ATR/BPN No.16/2017. Insentif pembangunan bagi pengembang yang memenuhi standar TOD.
Prioritas Tinggi · Dimensi Design
Rehabilitasi Permukaan Trotoar & Inklusivitas
Perbaikan menyeluruh permukaan 83% trotoar yang rusak (khususnya Jl. Soekarno Hatta dan Kopo). Pemasangan guiding block universal di semua koridor. Pembangunan ramp setiap 100 meter. Target meningkatkan Walkability Score dari 0,64 ke ≥0,80.
Prioritas Sedang · Dimensi Node
Unifikasi Sistem Pembayaran Antarmoda
Integrasi empat ekosistem pembayaran (TMP/TMJ, TMB, DAMRI, Angkot) dalam satu sistem single ticketing nasional. Ekspansi coverage Kartu Teman Bus untuk semua operator. Target meningkatkan Indeks Integrasi Antarmoda dari 0,63 ke ≥0,80.
Prioritas Sedang · Dimensi Design
Pembukaan Jalur Tembus & Peningkatan Permeabilitas
Negoisasi pembukaan akses jalan tembus di blok-blok permukiman tertutup untuk meningkatkan Pedshed Ratio dari 0,58 ke ≥0,70. Penataan PKL di Jl. Leuwi Panjang agar tidak memblokir jalur pedestrian. Pembangunan jembatan penyeberangan terlindung di Jl. Soekarno Hatta.
Jangka Menengah · Dimensi Place
Penambahan Fungsi Sosial & Mixed-Use
Meningkatkan proporsi fungsi sosial-budaya dari 3,4% ke standar kota sehat (8-10%). Pengembangan ruang publik aktif (plaza, taman), fasilitas olahraga, dan pusat komunitas. Mendorong bangunan mixed-use vertikal untuk meningkatkan keragaman aktivitas di luar jam kerja.
Jangka Panjang · Dimensi Node
Konektivitas Moda Rel (LRT/BRT Dedicated Lane)
Advokasi percepatan realisasi LRT Bandung atau pemberian dedicated lane penuh untuk BRT Trans Metro Pasundan. Integrasi fisik stasiun/halte LRT dalam radius 200m terminal. Ini akan meningkatkan Indeks Keragaman Moda dari 0,50 ke nilai maksimal dan mengurangi kerentanan sistem terhadap kemacetan.
Penutup
Kesimpulan
Node Tipologi Kawasan
Terminal Leuwi Panjang telah berhasil menempatkan dirinya sebagai simpul transportasi yang kuat di wilayah Bandung Raya, dengan lebih dari 40 trayek dan frekuensi layanan lebih dari 100 kendaraan per jam. Infrastruktur terminal yang modern dan konektivitas yang luas menjadikannya salah satu terminal bus terpenting di Jawa Barat.
Namun, superioritas fungsi transportasi ini tidak diimbangi dengan respon pengembangan lahan di sekitarnya. Kawasan yang seharusnya bertransformasi menjadi pusat aktivitas perkotaan yang hidup masih bertahan dengan pola pembangunan horizontal rendah — rumah-rumah 1-2 lantai yang mendominasi, pengguna lahan vertikal yang minim, dan fungsi sosial yang jauh dari standar ideal.
Kualitas lingkungan fisik yang hanya mencapai kategori "Cukup" (0,62) memperparah kondisi ini. Trotoar yang rusak, aksesibilitas yang terbatas bagi penyandang disabilitas, dan jaringan pejalan kaki yang tidak efisien menjadi tembok tak terlihat yang memisahkan dunia transportasi dengan dunia kawasan.
Kondisi Unbalanced Node bukan kegagalan — melainkan peluang. Fondasi transportasi yang sangat kuat adalah modal luar biasa. Yang dibutuhkan adalah keberanian kebijakan untuk mengubah kawasan ini: densifikasi vertikal, penyatuan sistem transit, dan revitalisasi ruang pejalan kaki yang inklusif.
Pustaka Utama