Transportasi

Tugas Akhir Skirpsi : Evaluasi Kinerja Kawasan Terminal Leuwi Panjang Menggunakan Extended Node Place Model

person

Lead Researcher

Ripan Nursalam

Published

Maret 29, 2026

Read Time

Menghitung...

Views

visibility ...

TOD

Skripsi · Perencanaan Wilayah dan Kota · 2026

Evaluasi Kinerja Kawasan Terminal Leuwi Panjang

Menggunakan pendekatan Extended Node-Place Model yang mengintegrasikan tiga dimensi: kapasitas transportasi (Node), intensitas aktivitas perkotaan (Place), dan kualitas lingkungan fisik (Design).

Penulis Ripan Nursalam · 242021035
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota – ITENAS Bandung
Pembimbing Sony Herdiana S.T., M.RegDev
Bandung 28 Januari 2026
PLACE (Aktivitas) NODE (Transportasi) Unbalanced Node Unbalanced Place Stressed Dependent Balanced 0.40 0.78 Leuwi Panjang 0 1 1

Tentang Penelitian Ini

Terminal Leuwi Panjang memegang peranan vital sebagai gerbang transportasi regional di Kota Bandung, namun belum berkembang menjadi kawasan yang terintegrasi secara optimal. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kinerja dan keseimbangan kawasan tersebut menggunakan pendekatan Extended Node-Place Model.

Penelitian mengkaji tiga dimensi pembentuk kawasan transit: kapasitas transportasi (Node), intensitas aktivitas perkotaan (Place), dan kualitas lingkungan fisik (Design). Metode campuran digunakan melalui perhitungan indeks kuantitatif, analisis spasial, dan audit walkability lapangan.

Hasil penelitian menempatkan kawasan pada klasifikasi Unbalanced Node (Simpul Tidak Seimbang), di mana kinerja transportasi sangat tinggi (Indeks Node 0,78) namun tidak diimbangi oleh perkembangan kawasan sekitar (Indeks Place 0,40). Terminal berfungsi efektif sebagai simpul transportasi, namun belum berhasil menjadi pusat aktivitas perkotaan yang hidup.

"Terminal Leuwi Panjang berdiri sebagai gerbang yang megah, namun jalan-jalan di sekitarnya belum menjadi tujuan. Infrastruktur telah memimpin, kini giliran kawasan yang harus menyusul."
197ha
Luas Wilayah Studi (Radius 800m)
54.596 jiwa
Estimasi Penduduk dalam Catchment Area
40+
Trayek Unik yang Dilayani Terminal
10.240
Total Unit Bangunan Teridentifikasi

Tiga Dimensi Evaluasi

🚌

Dimensi I

Node — Transportasi

0.78

Kategori: Tinggi (High Performance)

Terminal berfungsi prima sebagai simpul transportasi regional dengan konektivitas sangat luas dan frekuensi layanan yang sangat tinggi. Merupakan kekuatan utama kawasan.

Keragaman Moda
0.50
Konektivitas
1.00
Intensitas Layanan
1.00
Integrasi Antarmoda
0.63
🏙️

Dimensi II

Place — Aktivitas Kawasan

0.40

Kategori: Sedang-Rendah

Kawasan belum mampu memanfaatkan potensi aksesibilitas terminal. Dominasi hunian horizontal rendah dan minimnya keragaman aktivitas membatasi vitalitas kawasan.

Kepadatan Hunian
0.218
Diversitas Lahan
0.59
Intensitas Fisik
0.403
🚶

Dimensi III

Design — Walkability

0.62

Kategori: Cukup / Hambatan Sedang

Infrastruktur pejalan kaki tersedia namun belum optimal. Konektivitas baik namun kualitas permukaan sangat buruk (hanya 16,7% trotoar layak) dan minim fasilitas disabilitas.

Pedshed Ratio
0.58
Walkability Score
0.64

Perhitungan Indeks Node, Place & Design

Dimensi Node — Suplai Transportasi

Dimensi Node mengukur kapasitas terminal sebagai simpul dalam jaringan transportasi regional. Terdiri dari 4 indikator dengan bobot merata (equal weight 25%). Normalisasi menggunakan Min-Max ke skala 0–1.

IndikatorData EksistingSkor MentahNormalisasiKategori
Keragaman Moda
Modal Diversity
BRT ✓ (×2), Bus Reguler ✓ (×1), Angkutan Mikro ✓ (×1)
KRL ✗ · LRT/MRT ✗
4 / 8 poin 0,50 Sedang
Konektivitas Jaringan
Network Connectivity
Lokal: 9 trayek
Aglomerasi: 10 trayek
AKDP: >12 trayek
AKAP: >12 trayek
Total >40 trayek unik
Skor 5 / 5
(>20 trayek)
1,00 Sangat Tinggi
Intensitas Layanan
Service Intensity
Bus Kota & TMP: 18–24 kend/jam
Bus Jarak Jauh: 8–15 kend/jam
Angkutan Mikro: >60 kend/jam
Total agregat >100 kend/jam
Skor 5 / 5
(>30 kend/jam)
1,00 Sangat Tinggi
Integrasi Antarmoda
Intermodal Integration
Fisik: TMP↔TMB ≤0m, Angkot ≤200m (Halte Soetta)
Tiket: 4 sistem terpisah (TMP, TMB, DAMRI, tunai)
Informasi: hanya TMP real-time
20 / 32 poin
(Fisik:11, Tiket:5, Info:4)
0,63 Sedang
Rumus Indeks Node (Equal Weight 25% tiap indikator)
IN = (Imoda + Ikonektivitas + Iintensitas + Iintegrasi) / 4
IN = (0,50 + 1,00 + 1,00 + 0,63) / 4
IN = 3,13 / 4
IN = 0,783 → Kategori: Tinggi

Visualisasi Kontribusi Indikator

Keragaman Moda
4 dari 8 poin (road-based only)
0,50
Konektivitas Jaringan
>40 trayek unik (lokal–nasional)
1,00
Intensitas Layanan
>100 kendaraan/jam jam sibuk
1,00
Integrasi Antarmoda
Fisik baik, tiket & info terfragmen
0,63
Keragaman Moda Intensitas Konektivitas Integrasi
Interpretasi: Dua indikator kuantitatif (konektivitas & intensitas) mencapai nilai sempurna. Kelemahan terletak pada aspek kualitatif — keragaman moda terbatas pada sistem jalan raya, dan sistem pembayaran antarmoda masih terkotak-kotak.

Dimensi Place — Intensitas Aktivitas Kawasan

Dimensi Place menilai daya tarik kawasan sebagai pusat aktivitas ekonomi dan sosial. Terdiri dari 3 indikator dengan bobot merata (33,3%). Semua dinormalisasi Min-Max ke skala 0–1.

IndikatorData EksistingPerhitunganIndeksKategori
Kepadatan Hunian
Residential Density
Total unit hunian: 8.588
Luas kawasan: 197,53 Ha
Kepadatan = 43,5 unit/Ha
I = (43,5 – 0) / (200 – 0)
= 43,5 / 200
0,218 Rendah
Diversitas Guna Lahan
Entropy Index (Shannon H)
Hunian: 56,0% luas lantai
Usaha/Komersial: 29,1%
Campuran: 7,7%
Sosial-Budaya: 3,4%
Sarpras: 2,5%, Keagamaan: 1,3%
H = –Σ(Pi·ln Pi) / ln(n)
Σ(Pi·ln Pi) = –1,147
ln(7) = 1,946
H = 1,147 / 1,946
0,590 Sedang
Intensitas Fisik Bangunan
KDB & KLB
Luas tapak bangunan: 1.252.579,75 m²
Luas lantai total: 1.703.368,28 m²
Luas lahan: 1.975.271,84 m²
KDB = 1.252.580 / 1.975.272 = 63,41%
IKDB = 0,634
KLB = 1.703.368 / 1.975.272 = 0,86
IKLB = 0,86/5 = 0,172
Ifisik = (0,634+0,172)/2
0,403 Sedang-Rendah
Rumus Indeks Place (Equal Weight 33,3%)
IP = (Ikepadatan + Idiversitas + Ifisik) / 3
IP = (0,218 + 0,590 + 0,403) / 3
IP = 1,211 / 3
IP = 0,404 → Kategori: Sedang-Rendah

Visualisasi Kontribusi Indikator

Kepadatan Hunian
43,5 unit/Ha dari target 200 unit/Ha
0,218
Diversitas Guna Lahan
Entropi Shannon H = 0,59 (7 fungsi, bifungsi dominan)
0,590
Intensitas Fisik (KDB & KLB)
KDB 63,41% (I=0,634) vs KLB 0,86 (I=0,172) → Padat horizontal, kosong vertikal
KDB (Horizontal)
0,634
KLB (Vertikal)
0,172

Distribusi Luas Lantai per Fungsi (Dasar Entropi)

Hunian
56,0%
Usaha/Komersial
29,1%
Campuran
7,7%
Sosial-Budaya
3,4%
Sarpras
2,5%
Keagamaan
1,3%
Temuan Kritis: Dua fungsi dominan (Hunian + Usaha) menguasai 85,1% total luas lantai. Fungsi sosial-budaya hanya 3,4% — jauh di bawah standar kota sehat 8–10%. KLB rata-rata 0,86 berarti kawasan hanya memanfaatkan 17,2% dari kapasitas vertikal ideal (target KLB = 5,0).

Dimensi Design — Kualitas Lingkungan Fisik

Dimensi Design berfungsi sebagai variabel intervening — jembatan antara Node dan Place. Terdiri dari 2 indikator dengan bobot merata (50%). Menentukan apakah potensi integrasi fisik dapat terwujud.

IndikatorData EksistingPerhitunganIndeksKategori
Permeabilitas Jaringan
Pedshed Ratio
Radius analisis: 800 m
Luas buffer (Euclidean): 197,53 Ha
Luas service area (jaringan jalan): ±115 Ha
42% area terisolasi (±82,53 Ha)
Pedshed = 115 / 197,53
= 0,582

I = Pedshed (langsung)
0,58 Buruk
(0,50–0,59)
Kualitas Walkability
Walkability Audit Score
48 segmen diaudit
Konektivitas: 45/48 = 93,8% layak
Peneduh: 39/48 = 81,3% layak
Lampu PJU: 39/48 = 81,3% layak
Fasilitas disabilitas: 22/48 = 45,8%
Permukaan layak: 8/48 = 16,7%
I = Σ indeks segmen / 48
Distribusi kelas:
Sangat Baik(1,0): 4 segmen
Baik (0,8): 13 segmen
Cukup (0,6): 21 segmen
Buruk (0,4): 9 segmen
Sangat Buruk (0,2): 1 segmen
0,64 Cukup
Rumus Indeks Design (Equal Weight 50%)
ID = (Ipedshed + Iwalkability) / 2
ID = (0,58 + 0,64) / 2
ID = 1,22 / 2
ID = 0,62 → Kategori: Cukup (Hambatan Sedang)

Distribusi Walkability per Koridor

Koridor JalanIndeks
Jl. Leuwi Panjang
0,75
Jl. Cibaduyut
0,70
Jl. Kopo
0,69
Jl. Cibaduyut Dalam
0,60
Jl. Caringin
0,60
Jl. Soekarno Hatta
0,54 ⚠

5 Indikator Fisik (48 Segmen)

Konektivitas Jaringan
93,8%
Peneduh
81,3%
Lampu Penerangan
81,3%
Fasilitas Disabilitas
45,8%
Permukaan Layak ⚠
16,7%

Distribusi Kelas Walkability (48 segmen)

4
13
21
9
1
Sangat
Baik
BaikCukupBurukSangat
Buruk
Paradoks Infrastruktur: Konektivitas sangat baik (93,8%) namun detail mikro gagal. Permukaan trotoar layak hanya 16,7% mencerminkan paradoks di mana jaringan jalan tersedia tapi kondisinya tidak mengundang pejalan kaki.

Rekapitulasi Komposit — Extended Node-Place

Penggabungan ketiga indeks menggunakan bobot merata per dimensi. Koordinat (IN, IP) di-plot pada Matriks Node-Place untuk menentukan tipologi kawasan.

DimensiKomponen IndikatorSkorBobotKontribusiKategori
NODE
0,783
Keragaman Moda 0,50 25% 0,125 Sedang
Konektivitas Jaringan 1,00 25% 0,250 Sangat Tinggi
Intensitas Layanan 1,00 25% 0,250 Sangat Tinggi
Integrasi Antarmoda 0,63 25% 0,158 Sedang
PLACE
0,404
Kepadatan Hunian 0,218 33,3% 0,073 Rendah
Diversitas Guna Lahan 0,590 33,3% 0,197 Sedang
Intensitas Fisik Bangunan 0,403 33,3% 0,134 Sedang-Rendah
DESIGN
0,620
Pedshed Ratio (Permeabilitas) 0,58 50% 0,290 Buruk
Kualitas Walkability 0,64 50% 0,320 Cukup
Normalisasi Min-Max (berlaku semua indikator)
Ix = (x – xmin) / (xmax – xmin)
Koordinat Matriks Node-Place
Sumbu Y (Node): IN = 0,783 → High Node (di atas 0,50)
Sumbu X (Place): IP = 0,404 → Low Place (di bawah 0,50)
Filter Design: ID = 0,620 → Hambatan Sedang
Tipologi: Unbalanced Node

Perbandingan Skor 9 Indikator

Indikator0 ←──────────────→ 1
▸ Dimensi Node
Keragaman Moda
0,50
Konektivitas Jaringan
1,00
Intensitas Layanan
1,00
Integrasi Antarmoda
0,63
▸ Dimensi Place
Kepadatan Hunian
0,22
Diversitas Lahan
0,59
Intensitas Fisik (KDB+KLB)
0,40
▸ Dimensi Design
Pedshed Ratio
0,58
Walkability Score
0,64
▸ Indeks Komposit
I Node
0,78
I Place
0,40
I Design
0,62
Node
0,78
Tinggi
Place
0,40
Sedang-Rendah
Design
0,62
Cukup
Tipologi
Unbalanced
Node
Gap = 0,38

Pendekatan & Kerangka Penelitian

Pendekatan Penelitian

Penelitian menggunakan pendekatan deduktif-kuantitatif dengan metode campuran (mixed-methods) strategi sekuensial eksploratoris. Model Extended Node-Place (Vale, 2015) diadaptasi untuk konteks terminal bus Indonesia.

Kuantitatif Analisis GIS Walkability Audit Min-Max Normalisasi Node-Place Matrix
01
Pengumpulan Data Primer

Traffic counting, observasi lapangan, walkability audit 48 segmen, sensus persil bangunan

02
Pengumpulan Data Sekunder

Data Dishub, RTRW Bandung, BPS, peta OSM, citra satelit Esri

03
Analisis Per Indikator

Perhitungan skor Node (4 ind.), Place (3 ind.), Design (2 ind.)

04
Normalisasi & Komposit

Min-Max Normalization, equal weight, agregasi indeks komposit

05
Plotting Matriks & Tipologi

Pemetaan koordinat (Node, Place) → klasifikasi 5 tipologi Bertolini

Landasan Teoretis

B99
Bertolini (1999) – Node-Place Model

Kerangka klasik dualitas stasiun: Node vs Place; 5 tipologi keseimbangan kawasan transit

V15
Vale (2015) – Extended + Design

Penambahan dimensi Design (Pedshed Ratio) untuk mengungkap defisit permeabilitas fisik

L16
Lyu et al. (2016) – Morfologi Blok

Kepadatan persimpangan dan ukuran blok sebagai penentu aksesibilitas kota padat

C97
Cervero & Kockelman (1997) – 3D

Density, Diversity, Design sebagai tiga pilar pengukuran kawasan berbasis transit

R08
Reusser et al. (2008) – Tipologi

Perluasan klasifikasi tipologi keseimbangan Node-Place untuk evaluasi berkelanjutan

Wilayah Kajian — Radius 800m Terminal Leuwi Panjang

Wilayah studi mencakup 197,53 hektar yang diperoleh melalui buffering radius 800 meter dari titik pusat Terminal Leuwi Panjang, melintasi 8 kelurahan di 3 kecamatan (Bojongloa Kidul, Bojongloa Kaler, Babakan Ciparay).

Kelurahan Luas (Ha) Porsi %
Kebon Lega87,26
44,2%
Situsaeur49,33
25,0%
Kopo38,96
19,7%
Cibaduyut15,70
7,9%
Babakan Ciparay4,23
2,1%
Suka Asih1,83
0,9%
Margahayu Utara0,17
0,1%
Mekar Wangi0,04
0,02%
Total Luas Studi
197,53 Ha
Radius 800m dari terminal (standar TOD ~10 menit jalan kaki)
Estimasi Penduduk
54.596 Jiwa
Kepadatan 276 jiwa/Ha — jauh di atas rata-rata Kota Bandung (150 jiwa/Ha)
Total Bangunan
10.240 Unit
Hunian 75,8% · Usaha 14,7% · Campuran 8,1% · Lainnya 1,4%
Lokasi Strategis
Gerbang Selatan
Persimpangan Jl. Soekarno-Hatta, Kopo, Gerbang Tol Pasir Koja & Kopo

Profil Sistem Transportasi

🚌
Bus Rapid Transit (BRT)
Trans Metro Pasundan / Trans Metro Bandung
Kor.1 Soreang – Gading Tutuka – Leuwi Panjang
Kor.4 Leuwipanjang – Dipatiukur BEC – UNPAD
Kor.6 Leuwipanjang – Majalaya
K4 Leuwipanjang – Terminal Antapani
K1 Cibiru – Cibeureum
Headway: 10–20 menit · Cashless (QRIS/E-Money)
🚐
Bus DAMRI & Bus Kota
Reguler Perkotaan
D-11 Leuwipanjang – Ledeng (via Pasirkaliki)
D-8 Leuwipanjang – Cicaheum (via Soekarno Hatta)
+ Feeder TMB: Cibeureum – Mall Sumarecon
Tarif: Rp 4.000 – Rp 8.000
🚌
AKDP & AKAP
Antar Kota Dalam/Antar Provinsi
AKDP Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bekasi, Cirebon (>12 rute)
AKAP Jakarta (Kalideres, Kp.Rambutan, Tj.Priok)
AKAP Merak/Banten, Sumatera (ALS, Kramat Djati)
Tarif Jakarta: Rp 85.000–100.000 · Operasi 24 jam
🚖
Angkot & Elf
Pengumpan / Feeder Lokal
Angkot St.Hall, Ciroyom, Cicaheum, Kb.Kalapa, Soreang, Cimahi (7+ trayek)
Elf Ciwidey, Pangalengan, Cicalengka, Majalaya
Frekuensi tinggi: <2 menit headway di jam sibuk · Tunai
100+
kendaraan/jam pada jam sibuk
40+
trayek unik (lokal, regional, nasional)
Tipe A
terminal di bawah Kemenhub

Seluruh layanan berbasis jalan raya (road-based) tanpa dukungan moda rel (KRL/LRT), menjadikan kinerja terminal rentan terhadap saturasi lalu lintas di koridor Soekarno-Hatta dan Kopo.

Kualitas Lingkungan Pejalan Kaki

Indeks Walkability Per Koridor

Audit walkability dilakukan pada 48 segmen trotoar di 6 koridor jalan utama kawasan studi.

Jl. Leuwi Panjang
0.75
Jl. Cibaduyut
0.70
Jl. Kopo
0.69
Jl. Cibaduyut Dalam
0.60
Jl. Caringin
0.60
Jl. Soekarno Hatta
0.54
Pedshed Ratio: 0,58 — Hanya 58% wilayah dalam radius 800m benar-benar terhubung oleh jaringan jalan kaki. Sekitar 82,53 ha (42%) terisolasi secara konektivitas pejalan kaki meskipun dekat secara jarak lurus.

Kondisi 5 Indikator Fisik (48 Segmen)

93,8%
Konektivitas Jaringan
81,3%
Peneduh (Pohon/Kanopi)
81,3%
Lampu Penerangan
45,8%
Fasilitas Disabilitas
16,7%
⚠ Permukaan Trotoar Layak (KRITIS)
Paradoks Infrastruktur: Konektivitas jaringan sangat baik (93,8%), namun kualitas detail konstruksi sangat buruk. Lebih dari 80% trotoar mengalami kerusakan fisik. Kawasan mengakomodasi tapi tidak mengundang pejalan kaki.

Matriks Node-Place & Tipologi Kawasan

UNBALANCED NODE ↑ UNBALANCED PLACE → STRESSED ↑↑ DEPENDENT BALANCED PLACE INDEX (Aktivitas Kawasan) NODE INDEX (Suplai Transportasi) 0 0.5 1.0 0 0.5 1.0 0.40 0.78 Terminal Leuwi Panjang
Unbalanced Node

Simpul Tidak Seimbang — Transportasi Mendominasi

Dengan koordinat Node (0,78) dan Place (0,40), kawasan ini berada di kuadran kiri atas matriks, jauh dari garis keseimbangan. Fungsi transportasi sudah maju pesat, namun kawasan sekitar belum merespons dengan pengembangan yang setara.

Node Sangat Kuat (0,78)

43+ trayek, 100+ kendaraan/jam, BRT modern dengan GPS tracking

Place Lemah (0,40)

90,3% bangunan 1-2 lantai, kepadatan hunian 43,5 unit/ha (target 200 unit/ha)

Design Hambatan Sedang (0,62)

Jembatan Node-Place belum optimal; trotoar ada tapi kualitas buruk

Peluang Besar Menuju Balanced

Fondasi transportasi kuat memungkinkan transformasi TOD jika diikuti intensifikasi lahan

Kekuatan, Kelemahan & Peluang

Konektivitas Jaringan Maksimal

Lebih dari 40 trayek unik menghubungkan kawasan ke seluruh lapisan wilayah — dari gang lokal hingga lintas pulau ke Sumatera. Skor 1,00 adalah kekuatan tertinggi kawasan.

Kekuatan
🏠

Dominasi Hunian Horizontal Rendah

90,3% bangunan adalah rumah 1-2 lantai. KLB hanya 0,86 dari target 5,0. Kawasan baru memanfaatkan 17,2% kapasitas vertikal yang seharusnya ada di kawasan TOD.

Kelemahan
💳

Fragmentasi Sistem Pembayaran

Empat sistem berbeda (TMP/TMJ, TMB, DAMRI, Angkot tunai) beroperasi tanpa integrasi. Penumpang harus membayar penuh di setiap moda, menciptakan friksi transaksi yang menurunkan efisiensi transit.

Kelemahan
🛤️

Permukaan Trotoar Kritis

Hanya 16,7% dari 48 segmen trotoar yang dievaluasi memiliki permukaan layak. Retak, lubang, dan genangan air mendominasi, meningkatkan risiko kecelakaan terutama saat hujan.

Kelemahan
📍

Posisi Strategis & Potensi TOD

Terminal berada di persimpangan arteri primer Jl. Soekarno-Hatta dengan akses ke 2 gerbang tol. Kepadatan penduduk 276 jiwa/Ha menyediakan captive market yang besar untuk pengembangan TOD.

Peluang
🏪

Tiga Poros Aktivitas Unggulan

Terminal Leuwi Panjang (dengan MPP & Samsat Digital), RS Kiwari (rujukan regional), dan Sentra Sepatu Cibaduyut membentuk ekosistem aktivitas yang kuat sebagai fondasi kawasan TOD.

Peluang

Rekomendasi untuk Keseimbangan Kawasan

01

Prioritas Tinggi · Dimensi Place

Peningkatan Kepadatan Bangunan Vertikal

Transformasi dominasi rumah tapak 1-2 lantai menuju bangunan bertingkat (minimum 3-4 lantai) di koridor jalan utama. Perubahan regulasi KLB dari 0,86 menuju target 3,0–5,0 sesuai Permen ATR/BPN No.16/2017. Insentif pembangunan bagi pengembang yang memenuhi standar TOD.

02

Prioritas Tinggi · Dimensi Design

Rehabilitasi Permukaan Trotoar & Inklusivitas

Perbaikan menyeluruh permukaan 83% trotoar yang rusak (khususnya Jl. Soekarno Hatta dan Kopo). Pemasangan guiding block universal di semua koridor. Pembangunan ramp setiap 100 meter. Target meningkatkan Walkability Score dari 0,64 ke ≥0,80.

03

Prioritas Sedang · Dimensi Node

Unifikasi Sistem Pembayaran Antarmoda

Integrasi empat ekosistem pembayaran (TMP/TMJ, TMB, DAMRI, Angkot) dalam satu sistem single ticketing nasional. Ekspansi coverage Kartu Teman Bus untuk semua operator. Target meningkatkan Indeks Integrasi Antarmoda dari 0,63 ke ≥0,80.

04

Prioritas Sedang · Dimensi Design

Pembukaan Jalur Tembus & Peningkatan Permeabilitas

Negoisasi pembukaan akses jalan tembus di blok-blok permukiman tertutup untuk meningkatkan Pedshed Ratio dari 0,58 ke ≥0,70. Penataan PKL di Jl. Leuwi Panjang agar tidak memblokir jalur pedestrian. Pembangunan jembatan penyeberangan terlindung di Jl. Soekarno Hatta.

05

Jangka Menengah · Dimensi Place

Penambahan Fungsi Sosial & Mixed-Use

Meningkatkan proporsi fungsi sosial-budaya dari 3,4% ke standar kota sehat (8-10%). Pengembangan ruang publik aktif (plaza, taman), fasilitas olahraga, dan pusat komunitas. Mendorong bangunan mixed-use vertikal untuk meningkatkan keragaman aktivitas di luar jam kerja.

06

Jangka Panjang · Dimensi Node

Konektivitas Moda Rel (LRT/BRT Dedicated Lane)

Advokasi percepatan realisasi LRT Bandung atau pemberian dedicated lane penuh untuk BRT Trans Metro Pasundan. Integrasi fisik stasiun/halte LRT dalam radius 200m terminal. Ini akan meningkatkan Indeks Keragaman Moda dari 0,50 ke nilai maksimal dan mengurangi kerentanan sistem terhadap kemacetan.

Kesimpulan

0,78Node · Tinggi
0,40Place · Sedang-Rendah
0,62Design · Cukup
Unbalanced
Node
Tipologi Kawasan

Terminal Leuwi Panjang telah berhasil menempatkan dirinya sebagai simpul transportasi yang kuat di wilayah Bandung Raya, dengan lebih dari 40 trayek dan frekuensi layanan lebih dari 100 kendaraan per jam. Infrastruktur terminal yang modern dan konektivitas yang luas menjadikannya salah satu terminal bus terpenting di Jawa Barat.

Namun, superioritas fungsi transportasi ini tidak diimbangi dengan respon pengembangan lahan di sekitarnya. Kawasan yang seharusnya bertransformasi menjadi pusat aktivitas perkotaan yang hidup masih bertahan dengan pola pembangunan horizontal rendah — rumah-rumah 1-2 lantai yang mendominasi, pengguna lahan vertikal yang minim, dan fungsi sosial yang jauh dari standar ideal.

Kualitas lingkungan fisik yang hanya mencapai kategori "Cukup" (0,62) memperparah kondisi ini. Trotoar yang rusak, aksesibilitas yang terbatas bagi penyandang disabilitas, dan jaringan pejalan kaki yang tidak efisien menjadi tembok tak terlihat yang memisahkan dunia transportasi dengan dunia kawasan.

Kondisi Unbalanced Node bukan kegagalan — melainkan peluang. Fondasi transportasi yang sangat kuat adalah modal luar biasa. Yang dibutuhkan adalah keberanian kebijakan untuk mengubah kawasan ini: densifikasi vertikal, penyatuan sistem transit, dan revitalisasi ruang pejalan kaki yang inklusif.

Daftar Referensi

Bertolini, L. (1999) Spatial development patterns and public transport: The application of an analytical model in the Netherlands. Planning Practice and Research, 14(2), 199–210.
Vale, D.S. (2015) Transit-oriented development, integration of land use and transport, and pedestrian accessibility: Combining node-place model with pedestrian shed ratio. Journal of Transport Geography, 45, 70–80.
Lyu, G., Bertolini, L., & Pfeffer, K. (2016) Developing a TOD typology for Beijing metro station areas. Journal of Transport Geography, 55, 40–50.
Cervero, R. & Kockelman, K. (1997) Travel demand and the 3Ds: Density, diversity, and design. Transportation Research Part D, 2(3), 199–219.
Reusser, D.E. et al. (2008) Classifying railway stations for sustainable transitions — balancing node and place functions. Journal of Transport Geography, 16(3), 191–202.
Ma, J. et al. (2022) Node-place model extended by system support: Evaluation and classification of metro station areas in Tianfu new area of Chengdu. Frontiers in Environmental Science, 10, 990416.
ITDP (2017) TOD Standard 3.0. Institute for Transportation and Development Policy. New York.
Kemen. ATR/BPN (2017) Peraturan Menteri ATR/BPN Nomor 16 Tahun 2017 tentang Pedoman Pengembangan Kawasan Berorientasi Transit.
Zhang, Y. et al. (2019) Network criticality and the node-place-design model: Classifying metro station areas in Greater London. Journal of Transport Geography, 74, 143–154.
Groenendijk, L. et al. (2018) Incorporating the travellers' experience value in assessing the quality of transit nodes: A Rotterdam case study. Case Studies on Transport Policy, 6(4), 564–576.
Tamin, O.Z. (2000) Perencanaan dan Pemodelan Transportasi. Penerbit ITB, Bandung.
BPS Kota Bandung (2025) Kota Bandung Dalam Angka 2025. Badan Pusat Statistik Kota Bandung.
Parameters: Transportasi