Bangkitan & Tarikan
Perjalanan
Kota Bandung
Pemodelan spasial-temporal pergerakan penduduk berbasis klasifikasi tata guna lahan ITE 11th Edition terhadap 413 ribu bangunan di 30 kecamatan.
Dari Data Bangunan
ke Model Perjalanan
Pipeline analisis ini menggabungkan data geospasial bangunan terbuka, standar tarif perjalanan internasional, dan distribusi temporal jam-an untuk menghasilkan estimasi bangkitan-tarikan yang komprehensif.
Trips = GFA(1000sqft) × Rate(ITE). Unit residensial & hotel diestimasi dari GFA.Sumber Data
Gambaran Umum Kota
Statistik agregat dari seluruh 30 kecamatan Kota Bandung berdasarkan pemodelan trip generation berbasis ITE.
Kecamatan Terpadat (Trips/Km²)
Kepadatan perjalanan mencerminkan intensitas aktivitas per satuan luas wilayah — indikator kemacetan lokal yang lebih akurat dibanding volume absolut.
Distribusi Jam Puncak
Mayoritas kecamatan mencapai puncak pada pukul 16:00 (sore/pulang kerja). Empat kecamatan dengan karakter edukasi/perkantoran tinggi berpuncak pagi (07:00).
Kepadatan Perjalanan
per Kecamatan
Trip density (perjalanan per km²) menunjukkan tekanan aktual infrastruktur jalan lokal. Kecamatan padat dengan luas kecil seperti Bojongloa Kaler dan Bandung Wetan memiliki densitas ekstrem meski volume absolutnya tidak tertinggi.
Pola Aktivitas 24 Jam:
Edukasi vs. Perkantoran
Perbandingan profil jam-an antara bangunan edukasi (sekolah, universitas) dan perkantoran mengungkap perbedaan signifikan dalam timing bangkitan perjalanan — menjelaskan pola kemacetan yang berbeda di pagi dan sore hari.
Dominasi Fungsi Bangunan
per Kecamatan
Komposisi trip-share per kategori land use menunjukkan karakter fungsional tiap kecamatan. Bandung Wetan menonjol sebagai satu-satunya kecamatan dengan dominasi non-residensial yang signifikan — mencerminkan fungsinya sebagai pusat kota.
Pola Pergerakan Antar
Kecamatan (Gravity Model)
Matriks OD diaproksimasi menggunakan gravity model: volume perjalanan antar kecamatan diestimasi sebanding dengan produk bangkitan asal dan tarikan tujuan, berbanding terbalik dengan kuadrat jarak sentroid.
Estimasi Satuan Ruang
Parkir (SRP) Non-Residensial
Kebutuhan parkir diestimasi dari akumulasi maksimum kendaraan yang masuk dikurangi keluar sepanjang 24 jam untuk bangunan non-residensial. Nilai ini merepresentasikan kebutuhan parkir puncak teoritis.
Kluster Perjalanan
Tertinggi di Kota Bandung
Top 10 grid sel (resolusi ~500m) dengan akumulasi perjalanan tertinggi, diidentifikasi menggunakan binned statistics 2D. Titik-titik ini merepresentasikan area dengan konsentrasi aktivitas perjalanan tertinggi.
Dinamika Perjalanan
Sepanjang Hari
Visualisasi temporal pergerakan masuk (entering) dan keluar (exiting) seluruh bangunan di Kota Bandung, dari tengah malam hingga dini hari berikutnya. Data menunjukkan ritme harian aktivitas kota secara nyata.
Ringkasan Temuan
Kunci
Berdasarkan pemodelan terhadap 413 ribu bangunan, berikut temuan utama yang relevan untuk perencanaan transportasi dan tata kota Bandung.
Keterbatasan & Agenda Riset Lanjutan
Pemodelan ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan:
- Data OSM tidak seragam — beberapa kecamatan pinggiran memiliki coverage lebih rendah
- Estimasi jumlah lantai berdasarkan tag OSM yang seringkali tidak terisi
- ITE rates bersumber dari konteks Amerika Utara — perlu kalibrasi lokal
- Gravity model OD adalah aproksimasi, bukan survei OD aktual
- Tidak memperhitungkan variasi musiman dan hari libur
Pengembangan yang disarankan:
- Kalibrasi trip rate dengan data traffic count lapangan
- Integrasi data mobile location (GPS traces) untuk validasi OD
- Skenario what-if: dampak TOD/mixed-use terhadap pola perjalanan
- Ekstensi ke kabupaten sekitar (Cimahi, KBB, Sumedang)
- Pemodelan mode-split dan emisi CO₂ per kecamatan